Wednesday, November 26, 2008

Kabar Duka

Kemarin, adalah hari sibuk seperti hari-hari biasa. Yah, agak sedikit lebih sibuk memang. Aku ada urusan ke Bandung, dan Aa dapat tugas ngangon tamu dari Jepun. Tetapi, it was just an ordinary day, sampai ….

Jam 8 malam, kita baru saja tiba di rumah dan chit chat sebentar dengan anak-anak, ketika Papa Bogor menelepon Aa dan menyampaikan kabar duka itu.

Bi Ine meninggal, setelah sebelumnya sempat koma.

Tanpa sempat makan malam, buru-buru kami pergi lagi ke Bogor, karena Bi Ine akan dibawa ke Sumedang malam itu juga setelah dishalatkan.

Aku ingat... pertama bertemu Bi Ine di pernikahan Aa Aldi, masih dalam status sebagai calon mantu. Rada deg-degan, tentunya, pertama kali ketemu keluarga besar mereka. Bi Ine-lah yang menyapa paling ramah. Membuatku merasa diterima dengan wajar. Saat itu Alya masih bayi cantik usia belasan bulan, Irin dan Iqbal masih SD, dan aku ingat Iqbal berbisik di telinga Aa (yang kemudian tersampaikan ke telingaku juga),”Aa, jas-nya dikancing dong, biar mbak Dini tambah naksir” :D

Aku ingat... lantaran Mang Ena dan Bi Ine adalah pasangan paling muda, merekalah yang menjadi penghubung antar keluarga dari pihak mempelai pria saat pernikahanku dengan Aa. Papa Bogor juga menyebut pasangan adik bungsunya itu sebagai role model yang patut ditiru.

Aku ingat... Curhatku pada Bi Ine kala aku ragu, mana yang harus didahulukan : kewajibanku sebagai anak (berarti status working mom) atau kewajibanku sebagai ibu (berarti status stay at home mom) ? Atau, bisakah aku menyeimbangkan keduanya ? Ya, Bi Ine kupandang sosok working mom yang bisa menjalani kedua dunianya dengan sangat baik, dan karena usia Bi Ine relatif masih muda, rasanya asyik berbicara dengannya.

Aku ingat... kurang lebih 5,5 bulan lalu, ketika Papa Bogor mengabarkan Bi Ine masuk rumah sakit, karena paru-parunya terisi cairan. Lalu tak lama setelahnya, aku diminta membantu mendaftar ke spesialis paru. Kala itu, aku yang berpikir Bi Ine akan datang dalam kondisi lemah, sudah siap akan meminta perawat menyediakan kursi roda. Ternyata, Bi Ine datang dalam kondisi ”perkasa”, tetap dalam senyum ramahnya, hanya saja nafasnya yang agak tersengal tak bisa disembunyikan.

Aku ingat... ketika diagnosa itu datang... lalu aku didapuk jadi ”konsultan” kanker lantaran dianggap cukup tahu banyak. Ketika aku membantu Papa Bogor mencari berbagai informasi, karena Papa Bogor habis-habisan terlibat lantaran merasa Bi Ine sudah seperti anak sendiri ketimbang ”hanya” sekedar adik ipar – Papa Bogor adalah sahabat baik almarhum ayah Bi Ine. Lantas aku datang ke rumah sakit tempat Bi Ine dirawat, untuk berbincang mengenai berbagai hal. Bi Ine masih Bi Ine yang sama, yang berpikir jernih dan logis. Tak lama setelahnya, sempat juga perbincangan itu diteruskan via telepon. Atau sms singkat. Seringkali aku tak berani mengganggu, lantaran takut salah bicara atau bicara pada waktu yang kurang tepat.

Aku ingat... terakhir kali aku menengok Bi Ine, 2 minggu sebelum ia pergi ke haribaanNya. Kutemui Bi Ine dalam sosok tubuh yang kurus, tatapan mata yang kosong, bisikan yang lirih. Nyaris tak kukenali sosok ”baru” ini. Kemana Bi Ine yang ramah, yang selalu tersenyum, yang matanya selalu berbinar hangat ? Nyaris tak kuat aku berlama-lama di ruangannya, nyaris tak kudengarkan perkataan Wa Ade, ibu Bi Ine, yang menyapa anak semata wayangnya akan kehadiranku dengan harapan Bi Ine akan memberikan respon,”In, ini mbak Dini datang... biasanya kalian asyik ngobrol...”

Aku tidak berani menyapa, aku tidak punya nyali, aku kehilangan keberanian.

Allah yang Maha Tahu, Allah yang Maha Penyayang, Allah yang berkehendak orang yang sebaik Bi Ine segera menjadi milikNya kembali... Rupanya Allah tidak ingin Bi Ine berlama-lama menderita akibat kanker paru yang dideritanya...

Malam itu, pelayat berbondong-bondong datang, membuktikan bahwa banyak orang yang sayang pada Bi Ine. Teman-teman dan saudara membantu memandikan jenazah, mengkafani, menyalatkan. Dan mengiringi kepergiannya ke Sumedang, tempat Bi Ine dimakamkan pagi ini.

Selamat jalan, my dearest auntie....

*gambar dari www.sudirmandua.com*

1 komentar:

Ibeth said...

Ikut sedih ya, Bu.
Semoga ini yang terbaik buat semuanya.